Antara Hisab dan Rukyah

Perbedaan cara penentuan awal bulan, apakah awal Ramadhan atau awal Syawal, terjadi karena perbedaan cara ijtihad antara cara apakah awal bulan dilakukan dengan adanya ” wujudul hilal “metode” imkanurrukyah ” derajat.

Dikatakan kemukjizatanalquran.com Perbedaan cara ini terjadi karena perbedaan ijtihad dalam memahami nash dalil bila melihat bulan sabit, dibandingkan nash dalam Alquran dan hadits. Di dalam Alquran disebutkan: “Siapa di antara kamu yang merawat bayi di bulan Ramadhan, lalu harus berpuasa di bulan itu?

Rasulullah SWT juga bersabda: “Biarlah kamu berpuasa karena melihat bulan yang sedang tumbuh, dan berbuka puasa karena kamu melihat bulan yang sedang tumbuh, dan jika langit mendung, maka tiga puluh hari sudah cukup” (HR. Muslim. ).

Dalam hadits lain, riwayat Bukhari dan Muslim menyatakan: “Sebulan memiliki 29 malam, jadi jangan mulai berpuasa sampai kamu melihat bulan sabit. Jika cuaca pada malam itu mendung dan Anda tidak melihat bulan sabit, selesaikan 30 hari untuk perhitungan bulan sya’ban. ”

Perbedaan tersebut disebabkan adanya perbedaan pengertian frasa “melihat bulan sabit” pada nash di atas, baik melihat berarti melihat dengan mata kepala atau teropong sehingga membutuhkan ketinggian tertentu untuk dapat dilihat, atau frasa “melihat” juga berarti keberadaan bulan sabit dengan perhitungan astronomis dapat dilihat dengan mata telanjang? Perbedaan pemahaman inilah yang menyebabkan perbedaan metode penentuan bulan sabit.

Cara pertama, melihat bulan sabit dalam arti “bulan sabit bisa dilihat”. Untuk melihat bulan sabit membutuhkan ketinggian tertentu sehingga jika bulan sabit tidak terlihat, misalnya jika ada awan atau belum mencapai tingkat yang terlihat maka dianggap bulan sabit yang tidak terlihat. Untuk itu, perhitungan bulan Hijriah sebelumnya diselesaikan dalam tiga puluh hari.

Metode kedua menyatakan bahwa “melihat bulan sabit” berarti “adanya bulan (wujudul hilal)”. Jika bulan sudah ada, awal bulan jatuh, meskipun bulan sabit tidak dapat dilihat karena ketinggiannya yang tidak terlihat, tetapi dengan perhitungan astronomis, bulan sabit tersebut sudah ada, sehingga awal bulan dapat ditentukan dengan keberadaannya. dari bulan sabit. Kelompok kedua ini berijtihad bahwa ungkapan “bulan sabit dapat terlihat, artinya bulan sabit sudah ada menurut perhitungan astronomis, walaupun tidak dapat dilihat karena penampakan bulan memerlukan kondisi ketinggian tertentu.

Perbedaan ketiga juga terjadi dengan perbedaan matla ‘(tempat bulan sabit). Bagi sebagian ulama, kemunculan bulan sabit di suatu tempat di bumi ini, misalnya di Arab Saudi, Afrika, sudah bisa menjadi acuan keberadaan bulan. Bahkan di negara bagian lain itu tidak terlihat.

Aliran Hanafi menyatakan bahwa penduduk negara bagian timur harus berpuasa jika mereka yakin bahwa bulan sabit muncul di negara bagian barat.

Sekolah Maliki berpendapat bahwa ketika bulan sabit muncul, puasa harus dilakukan di seluruh negara bagian, baik di negara yang dekat atau jauh.

Aliran Hanbali menyatakan bahwa jika bulan sabit masih dapat dilihat dalam jarak dekat atau jauh maka setiap orang wajib berpuasa dan bagi yang tidak melihatnya juga wajib berpuasa karena wajib bagi orang yang pernah melihat bulan sabit.

Adapun beberapa ulama lain seperti mazhab Syafi’i menyatakan bahwa perbedaan matla ‘diperhitungkan. Karena muncul di suatu tempat, oleh hukum di tempat itu, dan itu tidak berlaku untuk tempat yang belum pernah melihat bulan sabit. Pendapat ini didasarkan pada kenyataan bahwa waktu shalat juga berbeda dengan kehadiran matla ‘. Oleh karena itu, perbedaan penentuan awal bulan juga diperbolehkan.

By eddye

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *